Yogyakarta – Perupa Radetyo “itok” Sindhu Utomo menaja pameran tunggal bertajuk : “De+Signing Phantasmagoria” di Indiearthouse Jl. AS-Samawaat No99 Bekelan Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul ,Yogyakarta.
Pameran yang dikuratori Sudjud Dartanto yang dibuka oleh Samuel Indratma Sabtu (12/05/2022) ini akan berlangsung hingga 4 Juni 2022.
Kurator Sudjud Dartanto mengatakan, fantasmagoria adalah citra dari sebuah kerja artistik untuk menghidupkan opsi estetika yang tidak selalu berurusan dengan kategori keindahan yang umum, misalnya, pada gambaran keindahan alam raya, namun sebuah ‘keindahan magis’.
“Kita dapat mengartikannya sebagai penjelajahan atas estetika apokaliptik (ketersingkapan),” ujar Sudjud.
Radetyo Sindhu Utomo yang akrab disapa Itok, papar Sudjud, sosok yang lama melintang di dunia desain grafis. Kali ini menghadirkan sisi subyektifasnya melalui pameran tunggalnya yang mengeksplorasi berbagai rentetan citra fantasmagoria yang digambar secara organik.
“Hasilnya seperti sulur cerita yang terkait dan berkelindan antara satu fragmen narasi ke narasi yang lain dan membentuk lanskap citra luas, dan tidak cukup hanya memahami dan memandang dalam satu penggalan saja,” beber Sudjud.
Lebih lanjut, Sudjud membeberkan, sembilan karya gambar yang dihadirkan Itok menghadirkan citra estetika yang jarang dieksplorasi oleh perupa. Itok mengambil sudut pandang dari ruang liminal dan dari situ ia menemukan mata air inspirasi yang baginya menggairahkan.
“Sebagai pribadi yang besar dengan cara pandang sebagai desainer, Itok memandang gambar sebagai solusi atas berbagai pertanyaan eksistensial dan permenungan spiritual. Makna menjadi manusia dalam perjalanan hidupnya yang penuh dengan cerita atas pencarian spiritual dalam kehidupan sosial dan peradabaan yang melatarbelanginya,” terang Sudjud.
Solusi dalam konteks ini tentu bukanlah solusi praktis, namun sebuah strategi keluar dari hukum atau kaidah narasi yang memerlukan keterkaitan logis. Oleh Itok, lanjut Sudjud, hubungan logis itu dibuyarkan menjadi hubungan imajiner, hasilnya adalah kebebasan dalam mengeluarkan apa yang Itok tafsir atas permenungannya pada ‘ada dan tiada’.
“Pameran ini menjadi caranya dalam mendesain(designing) sekaligus menandai(signing) sebuah fantasmogaria dalam kesadaran estetiknya,” tandas Sudjud dalam kurasinya.
Sedangkan menurut Radetyo Sindhu Utomo ada dan tiada adalah sesuatu yang utuh, spiritualitas yang mudah dibolak-balikan, untuk menjadi manusia mulia, suang-malam, gelap –terang, hitam-putih, ada dan tiada adalah manunggal.
“Siang , terang dan putih akan kehilangan makna tanpa malam, gelap dan hitam. Tanpa ‘ada’ dan ‘tiada’ menjadi tak bermakna, dan sebaliknya,” ujar Itok berfilosofi.
(Heru saputro)