Beranda Jawa Tengah Kolaborasi 3 Dalang Idung Lakon “Pandu Swarga” Meriahkan HUT Sobokarti ke-103

Kolaborasi 3 Dalang Idung Lakon “Pandu Swarga” Meriahkan HUT Sobokarti ke-103

Semarang – Perkumpulan Seni Budaya Sobokartti (Sanggar Seni Sobokartti) 5 Maret 2023 ini memasuki usia yang ke- 103 tahun. Merayakan hari jadinya salah satu Perkumpulan Seni Budaya tertua ini menghelat pagelaran wayang kulit yang ditaja di Gedung Kesenian Sobokartti, Jalan Dokter Cipto 31-33 Semarang, Kamis (16/3/2023) mengusung lakon “Pandu Swarga”.

Tiga dalang muda Sobokartti Ki Rendy Octavianto, Nova Adhi Hermawan dan Mohammdan Asy’ani berkolaborasi mengusung lakon “ Pandu Swarga”.

Sebelum pagelaran wayang dibabar dimeriahkan dengan penampilan Karawitan Sindoro Raras dari (Yayasan Jantung Sehat Cabang Provinsi Jawa Tengah) yang dipimpin Hj Sri Lestari Soediro, SH, MH. Juga persembahan tari Gambyong Pareanom dari Divisi Tari Sanggar Sobokartti pimpinan Darmadi.

Dalam gelaran wayang malam Jumat pahingan ini yang waktunya bertepatan dengan menjelang bulan Ruwah sekaligus juga untuk ajang kirim doa untuk para leluhur. Kirim doa berupa rerepen Asmaradana Santi pamuji slendro manyuro yang dipandegani KRT. Suradji Hadi Kusumo Projo Dipuro.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang Arief Tri Laksono SH dalam sambutannya, mewakili Wali Kota Semarang mengatakan, pergelaran wayang dalam rangka memeriahkan HUT Perkumpulan Sobokartti ini merupakan salah satu upaya untuk menguri-uri sekaligus nguripi budaya tradisi wayang.

”Pagelaran wayang kulit sebagai upaya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap salah satu kesenian tradisi agar merasa handarbeni sekaligus sebagai upaya pelestarian. Di samping itu juga sekaligus menyambut hari jadi Sobokartti yang menunjukkan tetap eksis di tengah budaya global yang tak bisa dibendung.

“Mudah-mudahan para dalang muda Ki Rendy Octavianto, Nova Adhi Hermawan dan Mohammdan Asy’ani bisa menampilkan kisah yang menarik untuk ditonton sekaligus bisa menjadi tuntunan dan teladan tatanan dalam kehidupan,” ujar Arief ketika menyerahkan menyerahkan tokoh wayang kepada salah satu dalang didampingi Ketua Sobokartti Soetrisno dan Ki Suradji.

Ketua Perkumpulan Seni Budaya Sobokatti Djamil Soetrisno Budoyodipuro, dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini pagelaran ini merupakan bentuk apresiasi kepada para sesepuh yang telah mendirikan Perkumpulan Sobokartti..

Soetrisno membabarkan berdasarkan anggaran dasar Volkskunsvereeneging Sobokartti 5 Maret 1920, Soboraktti diirikan tujuannya adalah mengembangkan kesenian rakyat serta meningkatkan apresiasi penduduk terhadap kesenian rakyat yang dilatarbelakangi oleh adanya gagasan beberapa tokoh kesenian antara lain K..P.A Prangwedana, Dr Rajiman dan Ir. Thomas Karstsen untuk mendirikan gagasan itu.

“Kemudian pada 5 oktober 1929Perkumpulan Sobokartti baru memiliki Gedung Kesenian yang dulu terkenal dengan nama Javaasche Wolkeuwburg atau Gedung Pertunjukan Rakyat Jawa. Hingga kini Sobokartti tetap eksis nguri-nguri budaya Jawa di tengah gempuran globalisasi, ” tandas Soetrisno.

Sebelumnya. Ki Suraji yang juga bertindak selaku penata karawitan dan lakon mengatakan, lakon “Pandu Swarga” ini mengisahkan, berawal dari keresahan sang panegak pandawa Raden Ayra Werkudara. yang merasakan kesedihan atas sepeninggal orang tuanya yaitu prabu Pandu Dewanata dan Dewi Madrim.

Sebab, Karna kesalahan Prabu Pandu yang berani meminjam lembu Andini, maka dihukumlah Prabu Pandu dan Dewi Madrim di dalam Yomaniloka atau Neraka Jahanam . (Heru Saputro)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini