Onlinekoe.com – Saya baru sekali ke Pulau Tegal di Pesawaran, Provinsi Lampung, Selasa (1/10).
Nama destinasi wisata milik Thomas Riska sebenarnya sudah lama saya ketahui, bahkan sudah dikenal hingga ke luar Lampung. Owner ini juga memunyai Bukit Mas dan Puncak Mas di Sukadanaham, Bandarlampung.
Mengunjungi Tegal Mas Island saat saya mengantar tamu Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, Olivia Zalianty dan Erfin Faz. Ditemani Muchlas E Bastari dan Tedy Kurniawan, kunikmati keindahan Tegal Mas.
Sebelum menuju Mutun, dermaga menuju pulau itu, Olivia-Erfin disuguhi indahnya Puncak Mas. Pesona dari ketinggian Sukadanaham menikmati alam di bawah sana, dan laut dari kejauhan, bagaikan di awan.
Pukul 09.30 kami tiba di Mutun. Kapal cepat khusus tamu VVIP sudah menanti. Kapal pun menembus gelombang, melewati pulau-pulau sepeti Pulau Tangkil.
Saat disebut Pulau Tangkil, saya teringat semasa SLTA. Bersama kawan sekolah kami pernah bermalam.
Tapi di sini, saya tak bicarakan Pulau Tangkil. Tegal Mas Island ternyata lebih menyihir!
Pulau itu amat luas. Puluhan cotage berbentuk rumah adat Lombok menanti untuk ditengok. Kabarnya percotage seharga antara Rp4 juta hingga Rp5 juta permalam.
Harga itu rasanya murah untuk mendapatkan keindahan sensasi. Cotage dan resto dibangun di atas laut, menggunakan pelampung. Sehingga jika ada ombak, bergoyang. Gelombang yang bersahabat, tak membuat pengunjung pucat.
Tentu destinasi yang sudah dirancang sangat matang. Thomas Riska sepertinya sudah menyiapkan konsep sebelum destinasi terwujud.
Perjalanan dari Mutun ke Tegal Mas hanya membutuhkan waktu 8 sd 15 menit. Tak melelahkan dan tidak mengkhawatirkan di laut.
Di Tegal Mas ini terdapat sebuah masjid apung dan satu musola di resto/cotage apung. Ini pun tentu sudah dikonsep matang. Sebuah destinasi wisata alam dan religius. Konsep dunia dan akhirat dikemas jadi satu.
Kami mengelilingi pulau ini naik mobil khusus di sana. Sungguh luas dan puas. Kami berkali-kali foto dan mengambil momen keindahan lokasi itu.
Olivia mengagumi pulau ini, setelah ia menyelam selama 45 menit di kedalaman 10-12 meter. Ia katakan pesona Tegal Mas sangat keren.
Selain ingin kembali, ia juga berniat mempromosikan Pulau Tegal.
Saya pun mengabadikan momen puitik lewat 1 puisi ini:
TEGAL MAS ISLAND
lalu waktu milik kita
laut merengkuh
pasirpair di dalam tubuh
gelombangkan angin
ke pusara akan datang
kau berenang ke pucuk
pantai, aku cukup di sini
menatap rumahrumah
di atas air
ini tegal mas island
lalu waktu mengajakku
berumah ini pantai
daundaun pepohonan melambai
laut bergolak damai
aduhai,
kupanggilpanggil nenekmoyangku
pelaut. bawa aku ke dalam birunya
1 Oktober 2019
Dalam batin, terbit gagasan, andai di sini dilangsungkan sebuah event sastra sekelas negara tetangga. Atau tak menutup kemungkinan internasional, sungguh akan makin mendunia Tegal Mas. Event yang bernama Tegal Mas Island Festival Puisi Internasional.
Sebagai tuan rumah, Lampung pasti bisa! Salam.
Isbedy Stiawan ZS, penyair







