Onlinekoe.com – Pentas milad ke -82 tahun Kelompok Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo berlangsung semarak . Pentas yang mengusung naskah lakon dari Episode Mahabarata bertajuk” Tahta Hastinapua” di Gedung Ki Narto Sabdo , Komplek Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang ini dihadairi ratusan penonton. Deretan bangku di kelas festival yang berbayar seratur ribu rupiah maupun balkon yang berbayar tigapuluh ribu rupiah hampir terisi penuh. Nampak hadir diantara penonton wayang orang dibangku undangan kehormatan anggota DPD RI asal Jawa Tengah Bambang Sadono . Pentas didahului dengan parade anekan tarian dari 16 sanggar tari yang ada di kota Semarang.
Ketua Yayasan Ngesti Pandowo Profesor Dr. Edi Dharmana berharap, setelah pentas merayakan ulang tahun yang ke-82, Ngesti Pandowo bisa tetap pentas di tahun-tahun berikutnya. “Mudah-mudahan kita masih bisa menjumpai pementasan-pementasan Ngesti Pandowo dimasa mendatang. Saya terkadang merasa priharin kalau melihat setiap pertunjukan reguler setiap malam minggu penontonnya hanya sekitar 40 orang, ” harap pemeran tokoh Prabu Salya pada pentas lakon” Tahta Hastinapura ini
Sementara itu, Bambang Sadono, Anggota, DPD RI asal Jawa Tengah, dalam sambutannya, mengatakan, Kota Semarang termasuk beruntung memiliki kelompok Wayang Orang Ngesti Pandowo. “Hanya ada 3 kota yang punya kelompok Wayang Orang yang masih rutin dan eksis berpentas, yaitu; WO Sriwiderari (Solo), WO Bharata (Jakarta) dan WO Ngesti Pandowo (Semarang). Sayangnya, tidak kita tidak pedulikan. Jadi kita harus terpanggil dan ikut berperan serta untuk menjaganya dengan cara menontonnya. Kelangsungan hidup WO Ngesti Pandowo, bukan semata-mata tanggungjawab pemerintah tetapi wajib didukung juga oleh warga masyarakat Kota Semarang ” ujar Bambang Sadono mengingatkan.
Bambang Sadono, mencontohkan di Jepang ada teater tradisional “Kabuki” dan di Cina ada “Opera Beijing” yang nasibnya lebih baik dari Wayang Orang, karena banyak ditonton masyarakat termasuk para wisatawan. “Kita berharap WO Ngesti Pandowo akan tetap terus eksis bertumbuhkembang dan ditonton masyarakat. Tentunya dengan terus melakukan inovasi dan kreatif agar tidak ditinggalkan penonton, ” lanjutnya..
Bambang Sadono menambahkan, media Wayang Orang bisa menjadi tontonan (hiburan) juga tuntunan, dan pada gilirannya bisa untuk pedoman tatanan. “Jadi WO Ngesti Pandowo harus terus ditumbuhkembangkan sesuai dengan situasi jaman,” pungkas Bambang sadono.
Pembina WO Ngesti Pandowo yang juga Sekda Provinsi Jawa Tengah Dr Ir Sri Purjono, menambahkan, WO Ngesti Pandowo merupakan aset budaya, yang sudah melegenda dan bahkan jadi salah satu ikon budaya Kota Semarang. “Kita bersama berharap ke depan Ngesti Pandowo masih bisa terus berpentas. Tentunya pementasannya terus ditonton masyarakat,” ujar pemeran Prabu Kresna dalam pementasan ini.
Pagelaran yang dimotori Laskar Muda Ngesti Pandowo ini disutradarai olek Wiradiyo dengan koreografer Bagas Suryo dan penata gending Sihanto,Catur dan Ha’o. Sedangkan pementasan para seniman Laskar Muda Ngesti Pandowo ini didukung para tokoh lintas profesi yang tampil sebagai pemeran antara lain Dr Ir Sri Purjono (Sekda Provinsi Jateng ), Dr dokter Agung Putra Msi Med (FK Unissula), Prof dokter Edi Dharmana, Dr dokter Damai Santosa SpPD KHOM, dokter Martha Ardiaria Msi Med (FK Undip/RSUP Dr Kariadi), Ir Aris Krisdianto MT, Dartoyo, Soekowardjojo (BI Semarang), dan Ir Agus Wariyanto SiP MM (Kadinas Ketahanan Pangan).
Pergelaran yang mengusung Episode Mahabharata lakon Tahta Hastinapura ini mengisahkan , tentang kekecewaan Dewi Gendari yang tidak sepenuhnya menerima keadaan sang suami.nya. Gendari merasa gelisah akan masa depan keturunannya kelak. Dewi Gendari kecewa atas takdir yang menjerat hidupnya. Kegelisahan membuatnya tak terkendali sehinggamembuat keputusan untuk menutup mata di hadapan sang suami Destarasta.
Adik dari Dewi Gendari yakni Harya Suman yang mengerti hal itu bersumpah akan mengubah takdir. Denga menghalalan segala cara dilakukan. Provokasi menjadi salah satu pilihan untuk melancarkan sumpahnya, walau pun raga Harya Suman akhirnya menjadi korban.
Tragedi Pringgodani mengubah dirinya, yang dikenal menjadi Harya Sengkuni. Perjuangannya menuai hasil. Dengan cara berjudi dadu, sengkuni dapat mengejawantahkan sumpahnya.
Namun, akhirnya, perang besar saudara darah batara yang terkenal dengan bharatayudha pecah. Perang pengabdian kepada keadilan. Perang suci penebus janji. Medan laga yang menajdi saksi musnahnya keangkaraan di muka bumi. Termasuk sengkunisang maha licik. Duryudana yang takut akan kekalahan ke kediaman ibunya Gendari. Akhirnya, Gendari dipaksa membuka kain penutup matanya. Dihadapannya para kurawa anak-anaknya tanpa daya.
Ketua Perkumpulan WO Ngesti Pandowo Djoko Moeljono., menambahkan ,sebelumnya, peringatan ulang tahun Ngesti Pandowo ini, akan didahului dengan acara ziarah ke kompleks makam seniman Ngesti Pandowo di Bergota dan prosesi potong tumpeng pada tanggal 1 Juli 2019 lalu. (Christian Saputro)







