Bandar Lampung – Mengakhiri Triwulan I tahun 2026, perekonomian dan kondisi fiskal Provinsi Lampung menunjukkan resiliensi di tengah tingginya ketidakpastian global. Meski dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi serta kebijakan moneter ketat Amerika Serikat, fundamental ekonomi Lampung tetap terjaga.
Hal ini tercermin dari surplus neraca perdagangan, inflasi yang terkendali, serta peran APBN sebagai shock absorber yang dioptimalkan untuk menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat fondasi pertumbuhan regional.
Kondisi Politik Global Fluktuatif, Neraca Dagang Lampung Masih Pertahankan Surplus
Dinamika global memberikan dampak bervariasi terhadap komoditas unggulan Lampung. Harga Batubara dan CPO terpantau menguat tipis, dengan Harga Referensi CPO Maret 2026 berada di level 938,87 USD/MT (naik 2,22% mtm).
Namun, harga Karet dan Kakao terkoreksi tajam akibat penurunan permintaan industri global, Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao turun signifikan sebesar -30,44% (mtm)
menjadi 3.722 USD/MT.
Kondisi ini turut menekan Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung yang turun -1,49% (mtm) menjadi 124,92 pada Maret 2026, terutama pada subsektor hortikultura dan perkebunan rakyat.
Meski demikian, berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung hingga rilis ini, kinerja perdagangan luar negeri Lampung pada Februari 2026 tetap mencatatkan surplus sebesar US$389,33 juta.
Secara bulanan, ekspor terkontraksi -1,57% (mtm) akibat penurunan di sektor pertambangan dan pertanian, namun industri pengolahan justru tumbuh positif 7,13% (mtm).
Di sisi lain, impor melonjak 16,13% (mtm) yang didorong secara masif oleh impor barang modal (meningkat 103,39% mtm), memberikan sinyal optimisme atas penguatan kapasitas produksi industri Lampung ke depan.
Surplus perdagangan yang terjaga mencerminkan sektor eksternal Lampung masih bertahan di tengah ketidakpastian global.
Sektor Riil Ekspansif dan Inflasi Terkendali
Aktivitas sektor riil di Lampung tetap berada pada zona ekspansi meski melandai moderat, tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia di level 50,1 dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 51,86. Dari sisi harga, inflasi Maret 2026 terjaga rendah di level 1,16% (yoy) dan 0,19% (mtm).
Inflasi tahunan terutama didorong oleh penyesuaian tarif listrik, sementara inflasi bulanan dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan seperti daging ayam ras, telur, beras, serta bensin nonsubsidi.
Kinerja APBN Maret 2026: Fiskal Ekspansif Menopang Pertumbuhan
Kinerja APBN Regional Lampung hingga 31 Maret 2026 menunjukkan tren yang tetap terjaga di tengah tekanan global.
Pendapatan Negara terealisasi sebesar Rp2.524,30 miliar atau 18,84% dari target, terkontraksi – 8,14% (yoy).
Penurunan ini dipengaruhi oleh kontraksi Pajak Perdagangan Internasional sebesar – 51,34 (yoy) seiring dinamika harga komoditas global, khususnya CPO.
Namun demikian, Pajak Dalam Negeri tetap menunjukkan kinerja positif dengan realisasi Rp1.618,63 miliar, tumbuh 21,77% (yoy).
Sementara itu, PNBP mengalami kontraksi tipis -5,39% (yoy) akibat penurunan PNBP lainnya,
meskipun pendapatan BLU masih tumbuh 2,97% (yoy).
Di sisi belanja, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp7.701,80 miliar atau 27,81% dari pagu, sedikit terkontraksi -2,47% (yoy).
Penurunan ini dipengaruhi oleh perlambatan penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang turun -10,54% (yoy), dengan realisasi mencapai Rp5.651,52 miliar atau 31,62% dari pagu. Namun demikian, DAK Non Fisik mencatat kinerja positif dengan realisasi Rp1.554,80 miliar
(34,71% dari pagu), tumbuh 27,33% (yoy).
Selain itu, Belanja K/L menunjukkan akselerasi dengan realisasi Rp2.050,27 miliar, tumbuh 29,79% (yoy), didorong oleh kinerja positif pada hampir seluruh jenis belanja.
Hingga akhir Maret 2026, APBN Lampung mencatat defisit sebesar Rp5.177,50 miliar atau 36,20% dari target, melebar tipis 0,55% (yoy).
Defisit ini mencerminkan kebijakan fiskal yang tetap ekspansif, di mana belanja negara terus dioptimalkan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung aktivitas ekonomi, serta mempertahankan momentum pertumbuhan.
APBN tetap menjalankan perannya sebagai shock absorber dalam meredam dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian daerah.
Isu Tematik: Revitalisasi Strategis Komoditas Kakao
Sebagai produsen kakao terbesar kelima di Indonesia, Lampung memegang peran strategis dalam peta ekonomi perkebunan nasional. Namun, kejayaan sektor ini terancam oleh tren penurunan produksi yang signifikan, dari 57.511 ton pada 2020 menjadi estimasi 44.300 ton pada 2026.
Penurunan produktivitas di wilayah sentra seperti Kabupaten Pesawaran, Tanggamus, dan Lampung Selatan ini merupakan dampak akumulatif dari tingginya populasi tanaman berusia tua, masifnya serangan hama, serta anomali cuaca ekstrem yang menghambat pertumbuhan kakao.
Tantangan struktural tersebut kian kompleks dengan adanya ancaman fenomena “Godzilla El Niño” serta ketatnya persyaratan pasar global terhadap standar Good Agricultural Practices (GAP) dan keterlacakan (traceability) produk. Tanpa intervensi kebijakan yang terintegrasi, komoditas kakao Lampung berisiko kehilangan daya saing di kancah internasional.
Oleh karena itu, fokus pembenahan harus diarahkan pada dua pilar utama: peremajaan infrastruktur pertanian melalui program replanting dan peningkatan kualitas pasca-panen melalui teknik fermentasi guna menghasilkan biji kakao dengan nilai tambah tinggi yang sesuai dengan spesifikasi industri hilir.
Guna mewujudkan revitalisasi tersebut, diperlukan penguatan sinergi lintas sektor yang mengintegrasikan penggunaan bibit unggul tahan hama dengan kemitraan strategis antara pemerintah, asosiasi petani, dan pihak swasta sebagai off-taker.
Kolaborasi ini sangat krusial untuk menjamin
kepastian harga dan serapan pasar, sekaligus mempercepat pemenuhan standar regulasi internasional.
Melalui optimalisasi ekosistem ini, sektor kakao diharapkan mampu bertransformasi menjadi industri yang lebih resilien, berorientasi ekspor, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan di tengah dinamika pasar dunia.
***
Narahubung Media:
Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Lampung
Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Kementerian Keuangan
Jl. Cut Mutia Nomor 23 A, Bandar Lampung
Situs: djpb.kemenkeu.go.id/kanwil/lampung
Surel: kanwildjpb.lampung@kemenkeu.go.id
Telepon: (0721) 485247
kanwildjpblampung djpblampung Kanwil DJPb Provinsi Lampung







