Medan – H Lukmanul Hakim dan Mahyani Muhammad adalah pemrakarsa sekaligus pendiri Forum Kerukunan Masyarakat Kabupaten Bireuen (FKMB) di Medan dan beberapa temannya yang lain ikut membidani lahir organisasi sosial ini.
Kini FKMB baru saja merayakan HUT atau Milad ke XI di Gedung Amjad Medan, Minggu 3 Desember 2022. Kegiatan itu dirangkaikan dengan pelantikan pengurus baru FKMB periode 2022-2027.
Tak heran, para tamu undangan memadati ruangan convention hall gedung megah tersebut. Termasuk Pj Bupati Bireuen Aulia Sofyan,PhD dan pejabat lainnya.
Saat itulah Mahyani Muhammad mendendangkan puisinya berjudul “Rumah Kita”. Ia seperti mendapat ilham menuangkan kata-kata bernada puitis ini. Mungkin Mahyani sangat terkesan ketika mendirikan FKMB bersama beberapa temannya yang lain.
Lantas apa yang dimaksud Mahyani bersama H Kukmanul Hakim dengan “Rumah Kita”? Itulah FKMB. Tak pelak, setelah ia mendendangkan puisi bernilai sejarah itu di hadapan para undangan lalu Mahyani didampingi Lukmanul Hakim dan Muslim Jamil menyerahkan puisi “RUMAH KITA” kepada Pj Bupati Aulia Sofyan.(tiar)
Coba kita simak “RUMAH KITA”
karya : Mahyani Muhammad
Rumah kita,…peguyuban yang di bangun bersama, untuk menyatukan semua gelora rasa, bersemayam indah
dalam rongga dada.
terpancar sebagai hasrat membaranya jiwa, yang lahir untuk tampakan jiwa raga sebagai sebuah keluarga, lentera kehidupan anak bangsa.
Rumah kita,… wahana dalam melangkah bersama, dari hamparan ruang bersemayamnya keturunan para leluhur dari
area koordinat 04’ 54’ 00’-05’ 21’ 00’ derajat lintang utara, dan koordinat 96’ 20’ 00’–97’ 21’ 00’ derajat bujur timur
garisnya khatulistiwa, hamparan Kabupaten BIREUEN yang penuh gelora, dalam kedudukan dan lingkup keberadaan di bumi DELI, Sumatera Utara.
Rumah kita,… tertata di bawah satu kuda-kuda tempat atapnya tersusun baku, pada area yang terpagari dari serumpun silsilah, dalam satu kesatuan indatu, rumah sang cicit, dari pancaran nutfah Syahrianshah Salman RAJA
JEUMPA, rumah sang cicit, dari lempengan alaqah Tun Sri Lanang RAJA SAMALANGA.
Rumah kita,… rumah serpihan cintanya Ampon Chik Samalanga, Teuku Haji Muhammad Ali Basyah, ayahanda sang putera yang menorehkan emas di puncak MONAS ibu kota Jakarta, rumah belahan jiwanya ampon Chik Peusangan
Teungku Muhammad Johan Alamsyah di Matang Geulumpang Dua,…
rumah kepingan rasanya Ampon Chik Geurogok, Teuku Bintara Istia Muda Peureudan di Kuta Panjoe.
Rumah kita,… rumahnya pewaris Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, meletakkan batu hadirnya JAMIATUL ALMUSLIM di Matang Geulumpang Dua…. rumahnya penerus Teungku Chik Ayah Abdul Hamid
yang menghamparkan tikar dan menabuhkan beduk di Tanjongan Samalanga,… rumahnya pewaris Teungku Abubakar bin
Ibrahim bin Salem Bey, memancangkan rangka NORMAL SCHOOL dan PUSA di bundaran simpang empat kota
Jeumpa,…
rumahnya penerus Kolonel Husein Yusuf, yang mengobarkan maklumat di semenanjung Asia lewat gelombang radio RIMBA RAYA.
Rumah kita,… terbangun pada 07 Desember 2011, tahun yang penuh kenangan, berperan dalam membangun persaudaraan, menapaki langgamnya pertemuan untuk maksud berseminya kerukunan.
Rumah kita,… pernah ditata pada sebuah ruang waktu berlalu, dalam kendali paska penyerahan pataka.
Lukmanul Hakim putra Peudada bersama Mahyani Muhammad yang menorehkan puisi RUMAH KITA.
Lukmanul Hakim pengusaha sumsum Langsa, bersama Teuku Arifin Husen yang telah bersemayam diri di kuburan Gampoeng Meunasah Tujoeh disamping gampoeng Meunasah Paya
Razali Ishak putera Keuchik yang menjaga keberadaan lapangan VOA di Tutu Meuria, bersama Rumai Noer B. Ali yang lahir di gampoeng bu sate Peusangan Raya…
rumah kita akan terus berkibar,!…
kita songsong hari esok dengan penuh sabar, di bawah komando akan menata kobaran, pada kendalinya Nurkhalis Abdullah bersama
Imran M. Ali, menerima pataka,
dari pengukuhan oleh Pj. Bupati,
putera tersayang MA Jangka.
Rumah kita,… tempakan kita dalam setara sama, refleksi atas bentuk musyawarah pada bingkainya rapat anggota, tiada membedakan adanya kasta, kuasa, atau harta, tampakan kita harus senada sama,
walau langkah kita hadir dengan kenderaan yang berbeda. Ada melangkah dengan kenderaan kota, honda, vespa, mobil-mobil toyota dan mazda.
Rumah kita,… bukan rumah saya… atau rumah anda,… dan juga bukan rumah dia…! atau rumah mereka…! rumah kita dengan langit
dan beranda rumah, milik dari semua kita,
bukan milik dari satu dan dua pemrakarsa atau pendiri serta sebagian anggota,
rumah kita dalam naungan rangka kuda-kuda, ditutupi atap genteng, pengganti daun rumbia,
rajutan pengrajin dari Gandapura hingga Samalanga, dari pinggir Blank Rakal hingga Selat Malaka.
Rumah kita,… guna kita melangkah dalam iringan bersama, dengan saling menyapa dalam gerak yang ber-etika, untuk kita memupuk rasa yang menentramkan jiwa dan menghindari tepukan dada sendiri disepanjang masa, untuk kita tersenyum tanpa cibiran dibibir kita dan sajian nada-nada yang tak memerah di semua daun
telinga, untuk kita ayunkan semangat penuh wibawa di mata semua anak-anak kita,
serta sungguhan kebijakan yang bermakna, sebagai hasil kajian terbaik saraf akal dan qalby kita.
Rumah kita,… cerminan rumahnya peradaban kita,…… nuansa rumahnya keadaban kita,…… tampilan rumahnya
kerukunan kita,…… keberadaan rumahnya kebahagiaan kita,…… kepemilikan.
Medan, 3 Desember 2022.
(Red)