Onlinekoe.com – Sekira 50 anak-anak berusia 8 -10 tahun berseragam T Shirt kuning duduk lesehan di Balai Kerta Saba, Pura Agung Giri Natha, Semarang, Minggu (21/7) lalu. Mereka anak-anak yang berasaladari datang dari latar belakang Kristen, Katolik, Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, Tridharma (Samkao), dan Sapta Dharma membaur tanpa batas menyimak pembicaraan fasilator yang memaparkan tentang Agama Hindu. Fasiltator Utama Bagas dari Komunitas Agama Hindu didampingi Direktur EIN Institute Ellen Kristi Nugroho memaparkan tentang seluk-beluk dan tradisi umat Hindu.
Bagus memaparkan, tentang ajaran kebajikan, simbol religius, dan ritual peribadatan dalam agama Hindu. Bagas menjelaskan, dalam agama Hindu tentang toleransi diajarkan lewat filosofi Tat Twan Asi . Lanjut Bagus, Tat Twam Asi itu punya makna atau arti itu/dia adalah kamu/engkau dan juga saya adalah kamu.Tat Twan Asi merupakan kata-kata dalam filsafat hindu yang mengajarkan kesusilaan tanpa batas. “Jadi pada dasarnya semua mahluk adalah sama. Sama-sama diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa. Jadi , tidak boleh menyakiti sesama mahluk, tetapi harus saling menghormati,” pesan Bagus.
Anak-anak lebur tanpa batas—tanpa sekat—dalam program Semai —Anak Semarang Damai—yang diinisiasi oleh EIN Institute, Ikatan Karya Hidup Rohani Antar Religius (IKHRAR) Rayon Semarang, dan Persaudaraan Lintas Agama (Pelita). Menurut Direktur EIN Institute Ellen Kristi, program yang mengusung tajuk : “Semaikan Cinta dalam Keberagaman”, ini merupakan upaya memupus prasangka dan stereotip negatif sejak dini. “Sengaja yang kami jadikan tujuan kunjungan adalah komunitas-komunitas religius yang dianggap minoritas, karena mereka jarang diberitakan,” terang Ellen Nugroho, yang juga ketua Tim Riset Semai.
Menurut sensus penduduk 2010, lanjut Ellen, yang juga bergiat di Komunitas Home Schooling Indonesia, jumlah umat Hindu di seluruh Indonesia sekitar 1,68% populasi atau 4 juta jiwa. “Sepertinya sedikit ya, padahal kalau kita simak sejarah, riwayat agama Hindu di Nusantara itu sudah tua sekali. Kerajaan Hindu pertama Salakanagara sudah berdiri di Jawa Barat pada abad kedua, lalu ada masa jaya selama era Kerajaan Majapahit sampai abad ke-13. Sejarah yang begitu panjang tentu meninggalkan banyak warisan budaya dan pemikiran bagi kita,” imbuhnya.
Ketua IKHRAR Rayon Semarang Br. Heri Irianto, FIC, menambahkan, mumpung mereka masih anak-anak, kita biasakan mereka bertemu dengan yang berbeda. Mereka belajar di dunia ini ada banyak ragam iman, tapi sebetulnya sama-sama mengajarkan kebajikan. “Jadi, harapannya, setelah besar mereka tumbuh jadi pribadi yang toleran dan damai, tanpa kehilangan imannya sendiri tentu saja,” tuturnya.
Selain belajar tentang sejarah agama Hindu, lanjut Heri Irianto, para peserta Semai #2 juga mendapat materi tentang konsep teologis dasar, ajaran kebajikan, dan ritual ibadah umat Hindu. “Namun karena pesertanya masih pra-remaja, tentu cara belajarnya disesuaikan, lewat permainan, diskusi kelompok, pengamatan langsung, dan refleksi sederhana. Jadi, bobotnya dapat, serunya dapat juga,” imbuh Heri.
Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Setyawan Budy, menariknya dalam program Semai ini, panitianya juga lintas agama. Jadi, ini juga sekaligus contoh kongkretnya adanya toleransi dan keberagaman. “Memang sengaja ya, supaya yang mendapat manfaat bukan hanya peserta, tapi juga semua komunitas religius di Semarang. Lewat kerjasama seperti ini, kerjasama antar umat beragama di Semarang makin erat. Ini akan membuat toleransi di Semarang yang sudah bagus menjadi makin solid, apalagi sekarang di mana-mana masih banyak pihak yang memainkan politik identitas,” ujar Setyawan Budy.
Ellen Kristi, selaku Tim Riset , berharap seusai mengikuti kegiatan “Semai” ini anak-anak bisa membuhkembangkan sikap toleransi yang antaralain dipetik dari filasafat Hindu Tat Twam Asi. “Mereka bisa menumbuhkan sikap toleransi yang dipelajari bersama di Pura Girinatha,” ujar Ellen , ketika menutup kegiatan siang itu. (Christian Saputro)







