Beranda Ragam Pelita Gelar Pentas Seni dan Refleksi Kebangsaan

Pelita Gelar Pentas Seni dan Refleksi Kebangsaan

Onlinekoe.com, Semarang – Kita mempunyai visi kebangsaan yang sama untuk menjadikan bangsa Indonesia yang adil makmur yang dibangun dalam keberagamanan dan keharmonisan.Bersama hari ini kita peringati hari pahlawan , untuk mengenang para pejuang yang telah gugur mempertahankan kemerdekaan pada pertempuran yang terjadi di Surabaya pada 10 November 1945.

Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Rhoudothus Sholihin , Sayung, Demak, KH Muhammad Abdul Qodir, Lc, MA, dalam Refleksi Kebangsaan yang digelar Komunitas Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang dengan menggandeng Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Sola Gracia.

Gelaran dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang mengusung tajuk: “Satukan Langkah untuk Membangun Negeri” ini ditaja di GKMI Sola Gracia, Jalan Sompok Lama 56 – 58, Lamper Lor, Semarang, Senin (11/11)

Abdul Qodir, lebih lanjut memaparkan, sekitar 6 ribu orang gugur dalam pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia. Menurut KH Muhammad Abdul Qodir, Lc, MA, kalau disigi dari sejarah, pertempuran 10 November 1945 ini, tak terlepas dari Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dicetuskan KH Hasyim Ashari dari Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Yang kini tanggal dicetuskannya resolusi jihad itu ditetapkan oleh pemerintah menjadi Hari Santri Nasional. “Merdeka atau Mati, jadi sebuah pilihan. Sebagai bangsa yang mempertahankan marwahnya harus hidup merdeka. Mereka lebih memilih bertempur habis-habisan untuk mati syahid,” ujar KH Muhammad Abdul Qodir.

Tak hanya di Surabaya, di Bali, lanjutnya , dikenal dengan Puputan Margarana, yang mencatat betapa heroiknya I Gusti Ngurah Rai dalam melawan penjajah. Indonesia dengan ribuan pulau dan penduduknya puluhan suku bangsa merupakan modal sosial yang besar. “Memang sulit untuk mengelola bangsa yang memiliki modal sosial yang besar. Lihat saya Afghanistan yang hanya memiliki 7 suku bangsa, dua suku bangsanya konflik hingga puluhan tahun tak selesai-selesai. Tokoh-tokohnya pernah datang ke PB NU, menanyakan bagaimana mengelola Indonesia yang terdiri dari puluhan suku bangsa,” imbuhnya.

Semangat kebangsaan yang kita miliki sebagai modal besar untuk membangun bangsa ini. Untuk itu, tandas KH Abdul Qodir, jangan sampai dikoyak-koyak radikalisme. Banser siap menjaga NKRI dengan semangat keberagaman dan perdamaian. Kita berdiri di atas tanah yang sama. Yang di bawahnya mengalir darah para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan negeri ini

“Mari kita rawat bersama agar tujuan negara kita menjadi adil dan makmur di atas keberagaman dan keharmonisan. Mari kita sengkuyung bersama untuk merawat kebhinekaan dan kemerdekaan agar kita menjadi bangsa yang besar,” pungkas Pengasuh Pondok Pesantren Rhoudothus Sholihin , Sayung, Demak, KH Muhammad Abdul Qodir, Lc, MA, mengakhiri Refleksi Kebangsaannya.

Sebelumnya , Lurah Kampung Lamper Lor Nur Ali dalam sambutannya , mengatakan, sangat bangga dengan kegiatan yang yang diiniasai oleh para kaum muda yang bertujuan untuk merawat kebangsaan sekaligus memperingati hari pahlawan untuk mengenang jasa para pendahulu yang berjuang untuk menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan.

Dalam kesempatan itu, Nur Ali, mengingatkan, Proklamator Bung Hatta, salah satu founding father Indonesia, mengatakan semangat kebangsaan itu beraneka rupa.Ada kebangsaan cap ningrat, kebangsaan cap intelektual dan kebangsaan cap rakyat. “Kebangsaan cap ningrat berjuang hanya untuk kaumnya, kebangsaan cap intelektual berjuang hanya untuk golongannya. Sedangkan kebangsaan cap rakyat berjuang untuk kemakmuran rakyatnya. Perjuangan yang benar-benar bermuara untuk rakyat inilah yang harus kita dukung,” tandas Nur Ali.

Lebih lanjut, dikatakannya, kita patut bersyukur semangat toleransi dan kebhinekaan bertumbuhkembang dengan baik. “Iklim ini tentunya sangat mempengaruhi pembangunan kota Semarang. Semarang terus berkembang bahkan walikota Hendrar Prihadi, banyak mendapat penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional. Ini juga peran panjenengan yang ikut menciptakan dan menjaga keadaan kota Semarang kondusif ,” pungkas Nur Ali.

Sementara itu, Pendeta GKMI Sola Gracia Soegiharto, M.Th, dalam sambutannya, mengatakan, dalam kesempatan ini kita patut bersyukur bisa bersama-sama memperingati hari pahlawan. Dengan kegiatan ini diharapkan akan makin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. “Ketika kita bersatu tak ada perkara besar yang tak bisa kita selesaikan,” ujar Soegiharto.

Koordinator Pelita Semarang, Setiawan Budi, mengatakan, sangat mengapresiasi GKMI Solo Gracia yang telah bersedia menjadi tuan rumah kegiatan refleksi kebangsaan dan juga organisasi-organisasi lintas agama sehingga pentas seni dan refleksi kebangsaan ini bisa berjalan dengan lancar.

Lewat kegiatan ini, lnjut setiawan juga diharapkan bisa menjadi jembatan dialog dan perjumpaan . “Mari bersama kita ciptakan jembatan-jembatan bukan sekat-sekat. Sehingga Semarang tercatat sebagai kota toleransi secara nyata bukan hanya slogan ,” tandas Romo Budi.

Acara selain diisi dengan Refleksi Kebangsaan juga dimarakkan dengan pertunjukan seni lintas agama dan lintas budaya yang bertujuan untuk mengenang dan memulikan para pahlawan antara lain; Sholawatan (Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin) , Pembacaan Puisi (Himpunan Mahasiswa Budha ) Keroncong ( Musik Surgawi Gereja Isa Almasih) , Musikalisasi Puisi (Pemuda Hindu Indonesia) Musik Kulintang (GMKI Sola Gracia), Musik dan Lagu ( Forum Persaudaraan Antaretnis Jawa Tengah ) Kolaborasi Puisi ( Himpunan Mahasiswa Studi Agama UIN Walisongo) , Monolog Kisah Pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945) dan Musik Etnik ( Gereja Katholik Santa Theresiana).

Pada pamungkas acara ditutup dengan menyanyikan lagu “ Satu Nusa Satu Bangsa” oleh seluruh hadirin. (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here