Safari Pedalangan Sanggar Sobokartti Mengusung Lakon “Wahyu Makutarama”

Semarang – Sanggar Sobokartti Semarang menggelar acara safari pedalangan. Pagelaran wayang Setu Paingan yang biasa ditaja di Gedung Sobokartti.

Kali ini pagelaran wayang kulit yang dibesut Ki Dalang Driyanto Feat Ki Dalang Jagad Bilowo mengusung lakon “Wahyu Makutarama”digelar di Balai Kampung, Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Jumat (16/12/2002)

Sumarni mewakili Sanggar Sobokartti dalam sambutannya, mengatakan, pagelaran Setu Paingan ini biasa digelar di Gedung Sobokartti, Tetapi kali yang ksebelaskalinya ini dipentaskan di Balai Kampung Jomblang, Candisari, Semarang.

“Ini merupakan program safari pedalangan Sobokartti . Tujuannya untuk lebih mendekatkan seni tradisional wayang kepada masyarakat yang lebih luas. Sobokartti ingin masyarakat juga ikut menguri-uri kesenian adiluhung warisan leluhur yang sudah diakui jugasebagai warisan budaya dunia dari Indonesia,” ujar Sumarni yang juga dikenal sebagai Sinden dari Sanggar Sobokartti.

Lebih lanjut, Sumarni, mengatakan Sobokartti berharap nantinya safari pedalngan ini bisa berlanjut ke kampong-kampung yang lain. “Yang sangat menyenangkan pada malam hari ini banyak anak-anak yang ikut menonton. Mudah-mudahan kelak mereka akan menjadi generasi penerus yang melanjutkan kiprah kami nanti,” ujar Sumarni.

Lurah Jomblang Hendi Nurcahyo menyambut baik dan mengapresiasi Sanggar Sobokartti yang berkenan menggelar program safari pedalangan yang pertama di Kampung Jomblang. “Ini baru pertama kali ada pagelarn wayang di Balai Kampung Jomblang. Mudah-mudahan ke depan bakal sering ada pagelarn wayang di Kampung Jomblang,”

Sebelum pagelaran digelar Lurah Jomblang Hendi Nurcahyo menerima kenang-kenagan sepasang wayang golek dari Ki Dalang Driyanto. Kemudian menyerahkan salah satu tokoh wayang kepada Ki Dalang penanda pagelaran wayang malam itu ditaja.

Lakon Wahyu Makutarama

Penata lakon dan karawitan Ki Suradji Hadi Kusumo memaparkan lakon Wahyu Makutarama ini menceritakan tentang Prabu Kresna yang menyamar sebagai Bagawan Kesawasidi, menurunkan ajaran Astabrata kepada Raden Arjuna. “Ajaran Astabrata ini merupakan ilmu kepemimpinan peninggalan Prabu Sri Rama di zaman kuno, sehingga ilmu ini disebut juga dengan nama Wahyu Makutaram,” ujar Ki Suradji.

Ala kisah Prabu Duryudana, Raja dari Negeri Astina, mengutus Narpati Basukarna agar dapat memboyong Wahyu Makutarama di Gunung Kutha Runggu. Namun di wilayah itu, telah dijaga oleh Hanoman dan saudara Tunggal Bayu.

Ketika rombongan para Kurawa tiba di Kutha Runggu, dihalang-halangi oleh Hanoman, sehingga terjadi peperangan. Para Kurawa mundur sambil mencari siasat. Namun pada waktu itu, Raden Arjuna sudah berada di Puncak Gunung Kutha Runggu dan langsung bertemu Begawan Kesawa Sidi. Akhirnya Raden Arjuna mendapatkan Wahyu Makuta Rama yang berisi wejangan Hastha Brata.

Setelah Begawan Kesawa Sidi selesai memberikan Wahyu kepada Raden Arjuna, akhirnya berubah menjadi wujud asalnya, yaitu Prabu Sri Bathara Kresna. Dalam perjalanan pulang, Raden Arjuna dihadang oleh para Kurawa. Terjadilah peperangan, namun semuanya dapat diatasi oleh Raden Werkudara. (Heru Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here