Beranda Ragam Viral: Pekerja Dapur SPPG Prapat Janji Mengaku Dianiaya, Ungkap Kejanggalan Menu MBG...

Viral: Pekerja Dapur SPPG Prapat Janji Mengaku Dianiaya, Ungkap Kejanggalan Menu MBG Hingga Pemotongan Gaji

Onlinekoe.com|Asahan Sumut , 7 Juni 2026 – Sebuah video keributan di lingkungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Prapat Janji, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan, menyebar luas di media sosial Facebook sejak Sabtu (6/6/2026) malam. Dalam rekaman itu, terlihat keluarga salah satu pekerja dapur mendatangi lokasi dan menuntut kejelasan atas dugaan penamparan yang dialami kerabatnya, sekaligus membongkar sejumlah pelanggaran dan kejanggalan dalam pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tempat tersebut.
Di dalam video, pengunggah bernama Haraa Saladd terlihat berteriak di depan pintu ruangan bertuliskan “Kantor”, sementara dihalau oleh tiga orang pria. “Mana kakakku.. Buka pintunya. Kenapa ditamparnya kakakku. Keluar dia. Ditamparnya kakakku, sama akuntansi. Jangan suka-suka kamu menampar anak orang,” serunya dengan nada tinggi. Peristiwa ini menjadi puncak dari keluhan yang sudah lama terpendam, di mana pekerja mengaku kerap mendapat intimidasi, perlakuan tidak pantas, hingga penghinaan, termasuk disebut “miskin” oleh staf administrasi SPPG.
Bukan hanya kekerasan fisik, Haraa juga membeberkan praktik kerja yang dinilai merugikan. Setiap keterlambatan masuk kerja antara 5 hingga 15 menit, gaji dipotong sebesar Rp60.000. Padahal, sejumlah staf utama seperti akuntan, asisten lapangan, dan petugas APPI justru sering tidak berada di tempat saat jam kerja namun tidak dikenakan sanksi apa pun. “Sejak awal masuk, saya sudah terima tekanan dan perkataan yang menyakitkan. Kami diam berkali-kali, tapi kali ini sudah keterlaluan,” tulisnya dalam keterangan unggahan.
Masalah yang lebih serius menyangkut mutu dan keamanan makanan program MBG. Disebutkan, sejak Senin (1/6/2026), SPPG tersebut sudah tidak memiliki Ahli Gizi karena pegawai yang bersangkutan mengundurkan diri. Pihak pengelola justru memberi alasan staf tersebut “pulang kampung”. Menu yang sudah disusun sesuai standar pun diubah sepihak oleh akuntan dengan alasan “melebihi anggaran”. Akibatnya, muncul menu “telur orek” yang disebut tidak seimbang gizi dan bermasalah. Beberapa hari lalu, puluhan penerima manfaat — anak sekolah hingga warga — dilaporkan sakit perut, mual, dan muntah setelah mengonsumsinya. Pihak pengelola malah meminta pekerja untuk sepakat menyatakan sakit itu “bukan karena makanan MBG”.
Kejanggalan lain terungkap dari riwayat masalah SPPG yang diketahui milik pengusaha berinisial AH (dikenal sebagai Ahong) warga Kisaran. Pada Februari 2026 lalu, pernah ditemukan benda asing berupa skrup di dalam wadah makanan yang akan dibagikan ke siswa. Saat itu, petugas keamanan berdalih benda itu ada karena “anak-anak sedang bermain”, bukan kesalahan pengolahan. Belum lagi kritik bahwa porsi dan kualitas sering kali tidak sesuai standar, namun biaya per porsi tetap dibayarkan penuh.
Kasus ini sudah dilaporkan ke Polsek Prapat Janji dan diteruskan ke Polres Asahan. Hingga Minggu (7/6/2026), postingan tersebut telah mendapat ribuan tanggapan. Banyak warga membenarkan keluhan kesehatan akibat makanan, sementara yang lain menyebut SPPG ini kerap bermasalah dan tertutup. Komentar akun Aman Dossa menyebut: “Hati-hati posting soal MBG, karena kesalahan selalu dilindungi, itu bukan rahasia lagi”. Ada pula yang menulis: “MBG itu sarangnya ketidakberesan, jadi tidak heran sembarangan saja”.
Publik kini menunggu hasil penyelidikan aparat dan tindakan Badan Gizi Nasional. Kasus ini kembali menyoroti tantangan besar pelaksanaan program MBG di daerah: mulai dari mutu makanan, standar gizi, hingga perlindungan hak pekerja yang seharusnya menjadi ujung tombak pelayanan. Jika terbukti ada pelanggaran, masyarakat menuntut pertanggungjawaban penuh dan perbaikan total agar program ini benar-benar bermanfaat dan aman bagi semua penerima manfaat.(SN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini