Wayang Jumat Kliwonan, Usung Tema Suwando Kridha

Kabid Kebudayaan Disbudpar Arief Tri Laksono foto bersama penata Naskah dan iringan Ki Soeradji dan Dalang Ki Jagad Bilowo sebelum pergelaran wayang dimulai( Foto : Christian Saputro).

Semarang – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang menggandeng Sanggar Sobokartti menggelar Wayang malam Jumat Kliwonan. Pergelaran wayang yang jadi agenda rutin Disbudpar ini di Gedung Cagar Budaya Sobokartti, Jalan Dr. Cipto 31, Semarang, Kamis (20/10/2022)

Pergelaran wayang kulit padat ini menampilkan dalang muda Ki Jagad Bilowo dengan mengusung lakon : “Suwando Kridha”. Pementasan wayang yang diiringi karawitan pengrawit kolaborasi dari Sanggra Sobokartti dan UKM UPGRIS “Sangkatama” dengan pengarah Ki Soeradji Hadi Kusumo Projodipuro ini juga ini disiarkan secara live streaming melalui kanal Youtube Tari Sobokartti, Youtube Teater Lingkar Official Semarang dan RRI Pro 4 Semarang 88.2MHZ.

Pagelaran wayang kulit malam Jumat kliwin ini dibuka Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang Arief Tri Laksono SH, mewakili Kepala Dinas Pariwisata dihadiri Ketum Sobokartti D Soetrisno, Ketua Teater Lingkar Suhartono Padmo Sumarto, tamu undangan lainnya dan masyarakat pecinta wayang dari berbagai penjuru Kota Semarang. .

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang Arief Tri Laksono SH dalam sambutannya, mengatakan, pergelaran wayang kerjasama Disbudpar, dengan Sanggar Sobokartti ini merupakan salah satu upaya untuk menguri-uri sekaligus nguripi budaya tradisi wayang. Pegelaran wayang kulit sebagai upaya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap salah satu kesenian tradisi agar merasa handarbeni sekaligus sebagai upaya pelestarian. Di samping itu juga sekaligus menyambut Hari Wayang Internasional.

“Mudah-mudahan dalang muda Ki Jagad Bilowo bisa menampilkan kisah yang menarik untuk ditonton sekaligus bisa menjadi tuntunan,”ujar Arief dilanjutkan menyerahkan tokoh wayang Sumatri sebagai tanda dimulainya pergelaran wayang malam Jumat Kliwon kali ini.

Sementara itu,, Sanggar Sobokartti Djamil Soetrisno Budoyodipuro menyambut baik kerjasama Disbudpar Kota Semarang dengan Sanggar Sobokartti menggelar wayang malam Jumat Kliwonan.“Kami dari Sobokartti berharap kerjasama ini bisa berkelanjutan kelak sehingga masyarakat pecinta seni budaya tradisional Wayang Kulit bisa menikmati pegelaran dan mengapresiasi. Di samping itu memberi kesempatan kaum muda untuk dan ikut berperan melestarikan wayang baik sebagai dalang maupun pengrawit,” ujar Mbah Tris panggilan akrab Ketua Sanggar Sobokartti.

Ki Jagad Bilowo, dalang muda berbakat dan potensial yang dimiliki Kota Semarang secara terpisah mengatakan, merasa terhormat diberi kesempatan untuk tampil dalam helat ini. “Saya merasa bersyukur dan bangga diberi ruang pentas dalam hajat pergelaran wayang malam Jumat Kliwonan ini. Padahal pengalman mendalang saya belum apa-apa. Ini merupakan panggung tempat saya mengasah pengalaman,” ujar Ki Jagad Bilowo yang punya sabetan-sabetan inovatif dan khas dalam pentasnya.

Secara terpisah, Penata naskah dan iringan Ki Soeradji Hadi Kusumo Projodipuro mengatakan, lakon :”Suwanda Kridha’ yang dibabar Ki Jagad Bilowo,mengisahkan tentang Patih Suwonda alias Sumantri yang hutang nyawa sama adiknya Sukrasana yang terbunuh tanpa sengaja oleh panah ditanganya.

Setelah kematian Sukrasana Bambang Sumatri karena dilanda kesepian yang mendalam menjadi seperti orang linglung. Kemudian datanglah Prabu Harjuna Sasrabahu raja Maespati memberi pencerahan. Suwanda pun kembali bangkit kemudian bergegas meninggalkan rajanya.

Beberapa waktu kemudian Citrawati istri ingin mandi di sungai Swilugangga. Sang Prabu Harjuna Sasrabahu pun mengabulkannya. Segeralah raja dan punggawanya berangkat. Sesampainya ditepi sungai berubah wujud menjadi raksasa yang kemudian tidur di sungai.

Sungai pun meluap, karena airnya terbendung Sang Raja Maespati, mengabikatkan banjir dan membuat geger kerajaan Ngalengka. Prabu Rahwana alias Dasamuka pun menggempur Maespati. Hingga banyak para punggawa yang gugur termasuk Sang Patih ditangan Prabu Rahwana.

Menurut Ki Soeradji kisah ini mengandung makna filosofi yang mendalam, karena pada akhirnya Rahwana yang juga berjuluk Dhasamuka adalah sosok wayang berkarakter jahat mendapat pengajaran dari Harjuna Sasrabahu. “Sura Dira Jayaningkangrat, Swuh Brastha Tekaping Ulah Dharmastuti. Becik ketitik ala ketara Sapa kang mbibiti ala wahyune sirna. Siapa yang menanam pasti akan menuai,” tandas salah satu pendiriPaguyuban Puji Langgeng Pandhemen Sang Mastro Ki Narto Sabdo.

Penampiilan Ki Jagad Bilowo yang aktraktif dan inovatif membuat pertunjukan berlangsung meriah dan gayeng Penonton tak beranjak menuntaskan hingga pergelaran wayang tancep kayon. (Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here