Mantan Cakrabirawa, Cerita Berdarah Pada Malam G30S/PKI

0
414
Dok. Detik.com

Onlinekoe.com | Nasional – Mengingat peristiwa kelam yang terjadi pada 30 September 1965 tidak bisa lepas dari pasukan elite pengawal presiden, Cakrabirawa. Berikut merupakqb kesaksian mantan prajurit Cakrabirawa yang kemudian dipenjara belasan tahun tanpa proses persidangan.

detik.com sempat mewawancarai salah satu eks anggota Cakrabirawa yang saat ini tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Beliau adalah Ishak Bahar, salah satu saksi peristiwa pembunuhan jenderal yang mayatnya dibuang di sumur Lubang Buaya.

Ishak saat ini berusia 87 tahun itu dengan jelas menceritakan peristiwa yang dialaminya pada malam kejadian pembantaian para jenderal.

“Pada tahun 1956 saya mulai di militer, saya kesatuan di raiders, kopassus, terakhir saya pengawal istana, justru saya kenanya di pengawal istana tahun 1965,” jelas Ishak Bahar saat dikunjungi di rumahnya, Rabu (29/9/2021).

Beliau memaparkan, dia awalnya tidak tahu bahwa akan dilibatkan dalam sebuah peristiwa yang dramatis.

“Sulit diceritakan, saya kan komandan regu pengawal istana untuk mengawal Sukarno ke mabes teknisi di Senayan. Tahu-tahu Pak Untung datang, ‘sudah jangan mengawal, ikut saya’ (menirukan perkataan Untung), itu tanggal 30 (September),” katanya.

Diperintah seperti itu, Ishak bertanya alasan apa sehingga perintah itu dialamatkan kepadanya. Ishak masih ingat bagaimana jawaban Untung atas pertanyaan yang dia sampaikan.

“Penjelasan Untung begini ‘Kamu mengawal saya, jadi ajudan saya, kamu kan bawahan, patuh hormat serta taat kepada pimpinan tidak membantah perintah atau putusan’ (menirukan Untung), itu jam 18.00 atau 19.00 WIB,” ucapnya.

Setelah itu Ishak mengaku dibawa oleh Untung, bersama dengan Kolonel Latief, sopir dan ajudan. Dengan bersenjata lengkap, dia tidak diberi penjelasan tentang tujuan perjalanan itu.

“Tidak dikasih tahu, tahu-tahu sampai di RSPAD nengok Soeharto, anaknya kan Tommy sedang sakit. Setelah itu ke Lubang Buaya,” lanjutnya

Setelah tiba di Lubang Buaya, Ishak diposisikan di sebuah pondok. Tidak berselang lama, dugaannya pasukan Cakrabirawa yang lain tiba di lokasi itu.

“Tiba-tiba diberikan tugas supaya menculik jenderal, saya nggak, saya ngawal Untung. Waktu itu pukul 01.00 WIB malam,” ungkapnya.

Sesaat pukul 04.00 WIB dini hari Ishak menyaksikan pasukan berdatangan. Dengan terkejut dia menyaksikan sebagian jenderal sudah dalam keadaan mati.

“Datang pasukan, Jenderal Yani sudah mati, (Brigjen DI) Panjaitan mati, (Mayjen MT) Haryono mati, Toyo (Brigjen Sutoyo Siswomiharjo) mati. Yang hidup hanya tiga, Jenderal Prapto, Jenderal Parman dan satu lagi siapa itu (Lettu) Tendean,” ungkapnya.

Sontak kepanikan terjadi, karena dirinya tidak pernah menduga akan terjadi peristiwa yang mengerikan itu.

“Kami semua panik lalu (para jenderal) dibuang semua ke sumur ditembak dari atas. Saya merasakan seolah kayak ngimpi,” jelas Ishak.

Setelah semua jenderal dibuang di dalam sumur, pasukan membubarkan diri. Dia ditinggal dengan pasukan truk.

Sampai ke Cakrabirawa saya dilucuti semua dan dijebloskan ke penjara,” tuturnya.

Akibat peristiwa itu, dimulailah penderitaan Ishak. Anggota Cakrabirawa berpangkat Sersan Mayor ditahan karena tuduhan terlibat dalam operasi G30S/PKI.

“Pertama di Cipinang 14 hari, terus pindah ke Salemba 13 tahun tanpa persidangan apa-apa, hanya sekali dimintai keterangan sebagai saksi Untung,” jelasnya.

Selama 13 tahun di dalam penjara, peristiwa tidak manusiawi sering kali dialaminya. Siksaan yang luar biasa dan kerap kali harus menahan lapar adalah hal sehari-hari baginya.

“Sudahlah jangan diceritakan, nggak ada yang enak lah. Kalau mukuli semaunya disuruh ngaku, lah saya nggak tahu anggota partai apa-apa, makanan gak cukup,” tuturnya.

Menurutnya, pernah selama empatbelas hari Ishak dan teman-temannya hanya diberi makan jagung yang disebar di atas lantai. Selain itu, kondisi sel yang sempit membuat banyak rekannya mati tanpa sempat menghirup kebebasan.

“Ukuran sel dua meter kali satu meter diisi empat orang, harusnya di situ diisi 600 tapi nyatanya diisi 4.000 orang. Saya merasa beruntung hanya karena Allah saya bisa bebas dengan selamat. Berbeda dengan rekan-rekan yang lain berakhir tragis di dalam, Saya tahu-tahu tanggal 28 Juli 1977 dibebaskan,” jelasnya.

Disaat menghirup udara kebebasan, Ishak menjalani kehidupan yang cukup sulit. Menjadi buruh tani dan menjadi tukang petik kelapa sempat dilakoninya.

“Saya merupakan anak ustaz, jadi beruntung masyarakat tidak begitu memberi cap buruk karena saya juga sebelumnya lulusan pesantren, jadi masyarakat banyak yang tidak percaya saya terlibat dalam peristiwa berdarah itu,” tutupnya. (Detik.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here